Senin, 18 Juni 2012

Berkawan Sebungkus Cap Djae



Sendiri aku di sini
Di kamar dengan rasa yang samar
Nikmatnya sebungkus cap djae tak mampu
Buat hatiku
Bersemi laksana dahulu

Aku sunyi lagi
Menyepi di atas rasa yang tak aku mengerti
Entah kapan aku pahami
Aku galau sendiri
Bersama sepupu sang Bakmi

Sebungkus cap djae yang menarik
Tapi maaf, nafsuku lagi tak cantik
Jadi nasi tak tersentuh olehku
Air pun tiada usai membeku
Dingin sekali..
Seperti es batu
 
Di kamar sepi
ditemani sebungkus Cap Djae, 
16 Juni 2012

Kamis, 14 Juni 2012

Peserta Lomba Puisi “Kilasan Jejak”

by Riskaninda Maharani on Sunday, June 3, 2012 at 11:21pm ·

1.     Abdul Ma’arif
2.     Achmad Arifin
3.     Asrul Sanie
4.     Aulia Akmalia
5.     Avet Batang Parana
6.     Aya Arsana
7.     Bayu Rhamadani W.
8.     Dina Fictoria L.
9.     Eka Safria P.A.
10. Emma Zulherma
11.  Fahmi Alatas
12.  Hasan Bisri
13.  Heny Atika
14.  Nenny Makmun
15.  Nunik Mariska Cahyani
16.  Rahmat Sahri Ramadani
17.  Risty Arvel As-Sauqi
18.  Rivyana Intan Prabawati
19.  Rose Citra Putri
20.  Seftian Januar Anwari
21.  Shoimatun
22.  Sri Utama Ningsih
23.  Vysel Arina
24.  Yusti Apriliana
Lomba ini akan diperpanjang sampai tanggal 20 Juni 2012. Akan tetapi, bagi teman-teman yang sudah mengirimkan naskah sebelum tanggal 31 Mei 2012 akan mendapatkan nilai plus. Jadi, jangan khawatir!
Pengumuman pemenang nama nominator 30 Juni 2012. Pentransferan dana akan dilakukan pada tanggal 1-15 Juli 2012. Pengumuman pemenang tanggal 15 Juli 2012. Dalam hal peserta tetap tidak memenuhi kuota, maka hanya akan diambil 23 nominator saja dengan 3 orang pemenang. Harap menjadikannya maklum adanya.

AUDISI PENULIS BUKU ANTOLOGI PUISI “KILASAN JEJAK” :

by Shoimatun Nur Azizah on Saturday, May 19, 2012 at 11:21am ·
oleh Riskaninda Maharani pada 15 Mei 2012 pukul 2:12 ·
 Enaknya ngapain ya? Daripada bengong, nulis-nulis nggak ada konsep, mendingan ikut lomba menulis puisi yuk! Keren lho! Nggak percaya? Simak saja ketentuan di bawah ini ya?
1.     Lomba terbuka untuk umum.
2.     Naskah adalah karya sendiri (bukan saduran) dan belum pernah dipublikasikan lewat media manapun.
3.     Naskah ditulis dalam file Microsoft Word 2003/2007, jenis kertas A4, spasi 1,5; batas margin 3 cm (1,18 inci)  untuk setiap sisi. Satu puisi tidak boleh lebih dari 1 halaman.
4.     Naskah dikirim ke email : riskanindam@yahoo.com berupa attachment bukan di bodi email dengan subjek email : Puisiku_Nama Akun FB dan subjek file : Nama Penulis.
5.     Menyertakan biodata narasi tidak boleh lebih dari 50 kata dan dijadikan satu dengan naskah (ditulis di lembar bawah naskah). Dilarang mengirimkan biodata narasi dalam file berbeda! Karena akan mempersulit proses pendataan.
6.     Tema : Kehilangan.
7.     Setiap peserta wajib mengirimkan 3 naskah terbaiknya dengan judul : “Kilasan Jejak”, “Deja Vu Rindu”, dan “Terpuruk”.
8.     Menyertakan tanggal pembuatan puisi.
9.     Lomba ini dibuka pada tanggal 14 Mei 2012 s.d 31 Mei 2012 (Jam 24:00 WIB)
10.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 15 Juni 2012 di note Riskaninda Maharani. Dengan agenda pengumuman nama 50 nominator (seleksi 1). Seleksi 2 yaitu pengumuman ketujuh nama pemenang akan dilaksanakan setelah dana terkumpul bersama. Untuk menjaga kemungkinan adanya nominator yang lolos dan tidak bersedia mengikuti proses selanjutnya. Diperkirakan akan diumumkan pada tanggal 30 Juni 2012.
11.  Keputusan Dewan Juri mengikat, tidak bisa diganggu gugat, dan tidak diadakan surat-menyurat.
12.  Tag info lomba ini ke minimal 30 orang sahabat FB. Dilarang men-tag info lomba ke penyelenggara lomba. Syarat ini akan dilihat jika penulis masuk nominasi. Dalam hal penulis masuk nominasi dan tidak ada note lomba ini dalam FB-nya, maka akan didiskualifikasikan secara otomatis. Sehingga, dimohon kepada peserta untuk tidak menghapus note ini selama lomba berjalan.
13.  Akan dicari 50 nominator yang naskahnya akan dibukukan bersama naskah para juri. Dan ke semua nominator akan mendapatkan 1 eks buku bukti terbit.
Akan dicari 7 pemenang dengan hadiah sebagai berikut :
Juara I : 1 eks buku antologi puisi “Senandung Alam”+ 1 eks buku “Resolusi Hebatku” + 2 eks buku bukti terbit.
Juara II : 1 eks buku antologi puisi “Senandung Alam”+ 1 eks buku “Resolusi Hebatku” + 1 eks buku bukti terbit.
Juara III : 1 eks buku antologi puisi “Senandung Alam” + 1 eks buku “Resolusi Hebatku”.
Juara harapan I s/d III : 1 eks buku antologi puisi “Senandung Alam”.
Satu penulis dengan puisi “Kilasan Jejak” terbaik : 1 eks buku antologi puisi “Senandung Alam”.
Nama ketujuh penulis tersebut akan tercantum dalam cover depan. Dan puisi “Kilasan Jejak” terbaik akan ditulis sebagai sinopsis di cover belakang buku.
14.  Update peserta akan dilakukan melalui note Riskaninda Maharani.
15.  Peserta harus bersedia mengikuti ketentuan mengikat (terlampir) jika berhasil lolos menjadi nominator.
Ketentuan mengikat:
            Sebagai upaya untuk menghasilkan karya yang berkualitas, peserta lomba yang berhasil lolos sebagai nominator audisi buku antologi puisi “Kilasan Jejak” diwajibkan untuk membayar dana “investasi” Rp.100.000,- ke penyelenggara lomba. Info tentang proses pengiriman/transfer dana ke rekening bank akan dibahas setelah diketahui nama-nama nominator lomba. Dan pentransferan dana akan berlangsung selama 2 minggu sejak tanggal 15 Juni 2012 hingga 30 Juni 2012. Sehingga diharapkan koordinasi dan kerja samanya yang baik antara para nominator.
Berikut bayangan transparansi dananya :
a.      Dana sebesar Rp. 1.000.000,- akan digunakan untuk pengganti biaya penerbitan bersama. Karena akan diterbitkan oleh penerbit indie ternama.
b.     Dana sebesar Rp. 50.000,- x 50 orang = Rp. 2.500.000,- akan digunakan untuk pengganti biaya cetak 50 eksemplar buku terbit. Harga buku diperkirakan sekitar Rp. 50.000,- / eks.
c.      Dana sebesar Rp. 20.000,- x 50 orang = Rp. 1.000.000,- akan digunakan sebagai
pengganti ongkos kirim buku. Harga ongkos kirim diambil rata-rata untuk kisaran Jawa dan Sumatra.
d.     Dana sebesar Rp. 500.000,- sebagai pengganti hadiah lomba.
Jadi, intinya per orang akan dikenakan pembebanan sebesar = Rp. 20.000,- (pengganti biaya penerbitan) + Rp. 50.000,- (pengganti biaya cetak buku terbit) + Rp. 20.000,- (pengganti ongkos kirim) + Rp. 10.000,- (pengganti hadiah lomba).
Semua hal di atas itu bersifat kisaran alias bayangan rata-rata. Sehingga, dalam hal adanya kekurangan dana adalah tanggungan dari penyelenggara lomba. Namun, dalam hal kelebihan dana, dana tidak bisa ditarik kembali. Dan untuk itu, kelebihan dana akan diberikan kepada “orang yang membutuhkan” alias akan menjadi amal bersama dari ke semua nominator.

Semua proses lomba ditangani secara profesional. Insyaallah buku kita juga bermutu, karena lahir dari sebuah kompetisi.
            Demikian info lomba ini kami sampaikan. Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih banyak kepada semua penulis yang berkenan ikut berpartisipasi.

Salam karya,
Cirebon, 14 Mei 2012


Penanggung Jawab Lomba:
Riskaninda Maharani dan Homsin Alatas.

Event kolaborasi cerpen dan puisi “Putus” DL 30 Juni 2012

by Penulis Dan Sastra on Saturday, June 9, 2012 at 6:33pm ·


  • Tema : putus

    Kami mengajak anda untuk mencurahkan isi hati tentang putusnya jalinan kasih asmara bersama Afsoh Publishing.
    Ketentuan :
    1.  Terbuka untuk Umum dan anggota Afsoh Publisher, GRATIS.
    2. Tulisan diangkat dari kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, atau kisah orang lain (seperti teman, sahabat, saudara, kenalan dan lain-lain). Ditulis dengan gaya bercerita yang mengalir. Di dalam cerpen harus terdapat puisi.
    3. Setiap peserta hanya boleh mengikutkan 1 tulisan terbaiknya, yang belum pernah dipublikasi di media online (seperti situs, FB, atau Blog) atau tidak diikutkan dalam lomba lainnya dan ditulis pada masa lomba 1 juni – 30 juni jam 15.00
    4. Panjang tulisan 3-9 halaman, spasi 1,5, kertas A4, jenis huruf TNR ukuran 12, margin 3 cm atau 1,18 inci semua sisi. Tulis biodata narasi di bagian akhir naskah, panjang maksimal 100 kata.
    1. Tulisan dikirim dalam LAMPIRKAN FILE (Attach File) ke email: info@hidupbaru.net dengan Subject : PUTUS - judul – nama penulis.
    1.  Sebarkan informasi ini di note FB minimal tag 20 teman termasuk Afsoh Publisher dan bisa diposting di Blog kamu.
    2.  Jika ada pertanyaan silakan hubungi koordinator lomba: KH Ilyas Afsoh atau Annisa Nur Arofah atau Afsoh Publisher.

    Keuntungan adalah :
    1. Tulisan atau naskah yang terpilih akan di bukukan oleh Afsoh Publisher.
    2. Bagi Penulis yang naskahnya ikut dibukukan akan mendaqpat Sertifikat Penghargaan dari Afsoh Publisher sebagai Penulis Online Terbaik.
    3. Bagi Pengirim naskah : Berhak mengikuti Undian Buku Gratis "KTMS" [Kenangan Terindah Masa Sekolah]Undian dilakukan oleh tim Afsoh Publisher

    Keuntungan ini bisa berubah sewaktu-waktu bila ada sponsor atau tambahan dari panitia.
    ada ralat,

    NB : Bahwa Penulis dan Anggota Group yang naskahnya dimuat di project ini Apabila ingin mendapatkan bukunya : Cukup mengganti Ongkos kirim & Biaya Cetak buku

Senin, 28 Mei 2012

cerpenku yang KO (lomba cerpen/cinta pertama oleh sahabat kata)


Bad First Love

Cinta pertamaku adalah kunang-kunang, berkelip terang hanya pada malam hari. Cahayanya pun tak terlalu terang, muncul, hilang, muncul lagi dan menghilang sampai pagi menjelang. Bak kunang-kunang hubungan kami putus nyambung, putus lagi dan nyambung lagi. Seperti lagu yang populer itu.
Namaku Nuri, awal kedekatanku dengan Fariz teman sekelasku dimulai saat berkiprah di dunia OSIS. Saat itu kami masih SMP, masih terlalu dini untuk mengenal pacaran. Sebab akibat banyaknya kegiatan di sekolah yang mengharuskan kita bekerjasama, kedekatan kami memuncak pada waktu menginjak bangku kelas VIII.
Selama menjadi sekretaris OSIS aku banyak terlibat di hampir semua kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Demikian juga dengan Fariz, justru ia lebih sibuk dariku pangkatnya pun lebih tinggi dari aku, yaitu ketua OSIS. Kita seharusnya bisa bekerjasama demi kemajuan OSIS di sekolah kami.
Saat ada perlombaan Siswa Teladan aku dan Fariz ditunjuk mewakili sekolah. Sayang kami tidak berkesempatan untuk mendapat juara, kami mendapat juara saat mengikuti lomba MTQ Hardiknas 2007 Alhamdulillah aku mendapat juara I dan Fariz mendapat juara III pada lomba itu.
Untuk merayakan keberhasilan kami, kita mengadakan suatu perayaan kecil. Sekedar makan-makan, untuk mengenang kemenangan kita. Yang diundang tentunya semua anggota OSIS. Dalam percakapan sederhana disebuah restourant, kami berceloteh ria.
“Kalian itu kompak.” Kata Isnie. Sambil meneguk segelas jus tomat.
“Bukankah kita harus kompak?” Sahutku sendu melirik kearah Fariz.
“Tentu saja, kalau tidak kompak kita tidak akan bisa bekerjasama.” Jawab Fariz dengan sigap dan santai.
“Sepertinya takdir juga bekerjasama dengan kalian.” Pendapat Fatkhu sedikit membuat kami berfikir untuk mencerna kata-katanya.
“Maksud kamu apa?” Respon Fariz membuat suasana menjadi dingin.
“Kamu kalah Nuri juga kalah. Giliran Nuri menang, kamu juga menang itu artinya takdir kompak dan berpihak pada kalian.” Jawab Fatkhu agak geregetan.
“Mungkin itu hanya kebetulan semata.” Kataku sambil membersihkan sisa makanan yang tertinggal di bibirku dengan tissue.
“Menurutku takdir berkata jika kalian itu jodoh.” Opini Zara membuatku dan Fariz keselek bersamaan “Apa aku bilang, keselek saja pakai kompak.” Tambah Zara.
“Sorry, aku mau ke toilet sebentar.” Izinku pada teman-teman.
“Ikut?” Rengek Fatkhu.
Sambil memeriksa dahi Fatkhu, Fariz mencoba membuat suasana semarak dengan lelucon sederhana. “Wach, panasnya 100o celcius, sakit jiwa dia. Buruan cepat panggil ambulance, kita bawa ke rumah sakit jiwa, sebelum Tuhan berkehendak lain”.
Tak kuhiraukan leluconnya, kuabaikan pula tawa teman-teman. Segera aku bergegas ke toilet. Rasanya kepalaku pusing sekali. Tuhan, apa yang terjadi. Kenapa aku terlihat pucat, tak kusangka hidungku mimisan. Mungkin aku hanya kelelahan karena aku terlalu lama di toilet Isnie menyusul.
Saat aku kembali, teman-teman mencemaskan kondisiku. Aku terlihat seperti pasien yang lemah, Fariz juga sangat mengkhawatirkan keadaanku.
“Apa kamu baik-baik saja, Nur?” Tanya Fariz sedikit panik.
Aku hanya tersenyum, duduk dan menghabiskan minumanku. Aku tak mengira jika aku akan mimisan lagi, segera kuambil tissue dan mengusap darah yang keluar dari hidungku. Sepertinya aku harus pulang sekarang.
“Teman-teman, aku sedang tidak enak badan. Mungkin aku harus pulang.” Kataku memberanikan diri untuk pulang lebih dulu.
“Bagaimana kalau mengantarmu pulang?” Fariz menawarkan diri.
“Tidak, terimakasih.” Aku menolak tawarannya.
“Kamu tak mungkin pulang sendirian, Nur. Kamu itu kan lagi sakit.” Zara melarangku pulang tanpa Fariz.
“Pulang diantar Fariz, nggak dosa kok.” Fatkhu mendukung jika aku pulang diantar Fariz.
Aku menyerah dan pasrah, “Baiklah” Fariz pun memesan taksi, saat taksi telah tiba Fariz membukakan pintu untukku. Fariz memelototiku karena aku tidak lekas masuk ke dalam taksi. Aku pun tersenyum malu dan segera duduk di belakang sopir.
Belum sampai 1 km taksi melaju, tiba-tiba aku merasa pusing, “Riz” keluhku sambil memegangi kepalaku yang terasa sakit sekali “Nur, kamu kenapa?” Fariz cegitu panik melihatku pingsan bersandar pada bahu kirinya.
“Pak, putar balik. Kita kerumah sakit sekarang. Cepat pak!” Fariz merasa sangat panik dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
***
Saat itu aku telah siuman tergolek lemah diatas ranjang rumah sakit. Aku melihat seorang suster yang ada disampingku, kupandangi setiap sudut ruangan itu. “Fariz!!” aku memanggil namanya. Suster itu pun menjawab, “Mbak, tadi pacarnya mbak sedang ke apotik”.
Aku berfikir panjang, tadi suster itu bilang “pacar” ah tadi pasti Fariz berkata yang tidak-tidak pada suster itu. Pasti dia mengaku sebagai pacarku di hadapan suster itu. Aku ingin bertemu Fariz, kucoba untuk bangun dan berdiri.
Fariz pun datang membawa obat, dan menghampiri aku. Sementara suster yang sopan dan cantik itu pergi meninggalkan kami. Awalnya aku ingin marah karena Fariz telah mengaku-ngaku sebagai pacarku. Tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat, hari ini aku banyak tergantung pada Fariz.
“Sorry lama, tadi aku baru nebus obat. Bagaimana kondisimu, Nur?”
“Baik, dan sudah saatnya aku pulang.” Aku ingin Fariz mengantarku pulang.
“Kamu yakin?, kondisi kamu masih lemah!” Fariz meragukanku.
“Aku yakin.” Kataku dengan penuh semangat.
Kurang lebih selama 30 menit kami naik taksi, akhirnya sampai pula di depan rumahku. Segera aku berterima kasih pada Fariz, karena hari ini aku turun, say “googbye” dan masuk ke dalam rumah, sampai di kamarku. Minum obat dan istirahat.
***
Saat istirahat di taman sekolah, Fariz menghampiriku yang tengah asyik berbincang-bincang dengan Isnie dan Zara. “Aku pinjam Nuri sebentar ya?”.
“Dengan senang hati.” Sahut Isnie dan Zara bersamaan.
“Ada Apa, Riz?” Suaraku terdengar serak.
“Nggak apa-apa kok, kamu sehat?” Fariz sepertinya masih mengkhawatirkan keadaanku.
Saat itu pula aku teringat akan kejadian semalam, aku mengajak Fariz untuk berbicara agak jauh agar teman-teman tidak mendengar pembicaraan kami. “Maksud kamu apa, kenapa semalam kamu mengaku sebagai pacarku di depan suster itu?”.
“Maaf, aku nggak sengaja.” Jawab Fariz setengah tertunduk.
“Kamu jangan coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan ya?” Kataku sedikit geregetan.
“Semalam aku hanya pura-pura, Nur” Ia beralasan.
“Tetap nggak boleh.” Kataku agak ketus.
“Kalau kamu mau sungguhan, aku sama sekali nggak keberatan kok.”
Mendengar kata-kata Fariz yang semakin mengacau, aku menarik beberpa helai rambutnya Fariz. “Aw, sakit tahu!” Fariz mengaduh.
“Kamu serius?” tanyaku penasaran. Fariz hanya mengangguk dengan mantab. Tuhan bagaimana ini, aku harus jawab apa. Aku bingung ya Rabb, berikan aku petunjuk-Mu.
“Boleh” jawabku sambil mengumpulkan keyakinan. Aneh, Fariz mendadak minta dicubit, mungkin ia merasa sedang bermimpi lalu berteriak, “Hore!” sambil lompat-lompat riang.
“Eh-eh, jangan senang dulu.” Aku memotong kegembiraannya. Aku meminta hubungan kita dibawa ke arah yang positif, seperti belajar bersama, olah raga bersama, dan makan-makan bersama.
Baru beberapa hari pacaran, ada-ada saja masalahnya. Aku mendapati Fariz berbohong. Katanya mau basket satim yang terdiri dari Fatkhu, Razki, Arshav, Erick, dan Ali. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Fariz tengah menemani Isnie membeli pita dan kertas gabus warna-warni.
Fariz memberi alasan jika itu adalah tugas OSIS, lalu kenapa aku tidak dilibatkan. Ia juga menegaskan berkali-kali jika Isnie itu bendahara OSIS. “Aku mau kita putus.” Kataku penuh emosi.
“Tidak masalah.” Menerima keputusankku, ia sama sekali tidak menyesal dan minta maaf kepadaku. Pada akhirnya, aku yang merasa kehilangan Fariz karena sikapku yang kekanak-kanakan.
***
Pensi sebentar lagi dimulai, lagi-lagi aku dan Fariz terlibat sebagai panitia acara tahunan ini. Aku terpaksa bekerjasama dengannya, karena aku tidak mau dikeluarkan dari keanggotaan OSIS. Jadi aku mencoba untuk bersikap profesional, meski sempat beberapa kali berbeda pendapat dengan Fariz, aku tetap memenangkan perdebatan itu.
Aku tidak menyangka, diakhir acara Fariz meminta maaf kepadaku didepan teman-teman. Ia juga menyanyikan lagu untukku, lagu kesukaan kita. Lagu dari Andra and The Backbone yang berjudul “Sempurna”. Ditengah-tengah lagu tersebut, Fariz mengajakku naik keatas panggung.
Fariz menatapku dan melanjutkan bernyanyi, “kau adalah darahku … kau adalah jantungku … kau adalah hidupku … lengkapi diriku … oh, sayangku kau begitu … sempurna ….”
Sungguh aku telah dibuatnya melayang terbang jauh ke angkasa, saat ia berkata. “Would you be my boyfreind again?”. Aku tak mampu berkata-kata lagi, aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, mengiyakan permintaannya. Saat itu pula aku tidak menyadari bila aku telah berada daalam pelukan Fariz. Fariz, aku kangen sama pelukan hangat kamu. Sejak saat itu aku balikan lagi dengan Fariz.
Sejak saat itu pula kami adalah pasangan paling serasi dan menginspirasi kata-kata teman-teman di sekolah seperti, karena kami punya panggilan spesial. Fariz memanggilku Peri Imuet dan aku memanggilnya Pengeran Kunang-kunang, lucu ya.
***
Ada anak baru yang jadi anggota OSIS namanya Indah, dia sekelas dengan aku dan Fariz kehadiran Indah membuatku dan Fariz berjauhan, Indah mendapat posisi sebagai seksi konsumsi di OSIS. Aku sering mendapati mereka jalan bersama dengan tujuan berbelanja untuk keperluan berbagai acara di sekolah.
Aku percaya Fariz dan Indah tak punya hubungan lebih dari sekedar berteman. Kepercayaanku pun tenggelam di lautan saat kudapati Indah berpelukan mesar dengan Fariz disebuah restourant. Lagi-lagi Fariz membuatku merasa cemburu, marah, kesal dan kecewa.
Aku memberi pesan yang berisi “kita putus!” pada saat itu juga. Fariz pun baru tersadar jika aku tengah makan sendirian di restaurant yang sama, ia pun menghampiriku.
“Kamu salah paham, Nur?”
“Kamu mau alasan apalagi, Riz?”Aku marah dalam tangisan.
“Tadi Indah baru putus sama pacarnya dia, wajar donk kalau aku menghibur dia.”
“Kalau menghibur kenapa harus pelukan?, Ups sorry, aku nggak sengaja.” Aku menumpahkan segelas air putih tepat mengenai wajahnya yang pura-pura lugu. Aku pun pergi meninggalkannya jauh dari restaurant itu.
Aku memilih untuk meletakkan jabatanku sebagai sekretaris OSIS. Aku males jika harus bekerja sama dengan bekas pacarku dan penghianat itu.
Saat kutahu Indah yang menggantikan posisiku di OSIS aku marah-marah.
“Selamat ya, sekarang kamu jadi sekretaris OSIS yang baru, penghianat!”
“Makasih, sebentar lagi aku juga akan mengambil hati Fariz dari hati kamu.” Kata Indah dengan besar kepala.
“Silakan! kita dah putus kok.”
“Bagus donk, berarti nggak ada yang menghalangi hubungan kami.” Indah makin lama makin nyolot.
“Iih!” Hampir saja aku menjambak rambutnya yang keriwil itu, tapi Isnie dan Zara mencegahku.
***
Beberapa hari kemudian, kudengar berita sekaligus mimpi buruk itu. Fariz dan Indah jadian, sekarang mereka pacaran. Dua penghianat itu ada di depanku saat ini.
“Selamat ya, mudah-mudahan kalian selamanya.” Kataku pura-pura tegar.
“Makasih, Nur.” Jawab Fariz.
“Tenang Nur, aku akan menjaga dan membahagiakan Fariz dengan sepenuh hati aku.” Sahutan Indah membuat mataku berkaca-kaca, aku berlari tak kuat membendung airmata.
Perih hatiku tersayat, sudah patah, diiris-iris pula. Begitu mudahnya Fariz mencari penggantiku. Padahal dirinya tahu, jika ia adalah my first love. Kini usai sudah kisah cinta antara Pangeran Kunang-kunang dan Peri Imuet.
Sedih jalan cintaku ini. Tuhan biarkan aku melepaskannya, melupakan apa yang pernah terjadi diantara aku dan Fariz. Bantu aku mengikhlaskan semua ini, ya Rahman. Aku yakin bila saat ini aku bersedih terluka hati karena cinta, suatu saat nanti aku akan bahagia karena ada cinta yang lebih baik daripada cinta sebelumnya.

Cerpenku ke jawaposforher???

  Simpan Rasa Sayangmu   
    Pada sutau pagi, aku baru mendengar kabar rencana kepindahan teman lamaku, Razki. Kabar itu kudengar dari saudara kembarku, Naima. Katanya, Razki kan pindah ke Klaten, mulai tahun ajaran baru. Menurutnya Razki akan bersekolah diSMP 1 Pedan juga. Dan ternyata benar.
    "Razki!" Aku kaget melihatnya.
    "Benarkan apa yang kukatakan?" Naima mengomentari kekagetanku.
    "Hai, Naura. Hai, Naima! Ternyata kalian sekolah di sini juga?" Razki masih mengingat kami, meskipun terkejut melihat kami di satu sekolah yang sama.
    "Ya, seperti yang kau lihat. Ternyata berita kepindahanmu tak hanya terucapdari mulut ke mulut saja." Jawabku seolah tak peduli.
    "Ya, itu fakta. Kalian duduk di kelas VIII A bukan?"
    "Darimana kau tahu?" Tanyaku.
    "Tentu saja dia tahu, dia kan melihat kita memasuki kelas VIII A dan sekarang kita berjumpa dengannya di kelas ini juga," sahut Naima.
    "Oh, bodohnya aku," aku sangat malu mengatakannya.
    "Dan kau akan duduk di kelas ini juga?" Tanyaku.
    "Kalau tidak untuk apa aku disini." Jawabnya.

    Tiba-tiba bel tanda masuk berdentang. Ibu guru memulai pelajaran dengan memperkenalkan Razki.
    "Selamat pagi, anak-anak!" Sapa Bu guru.
    "Selamat pagi, Bu!" Jawab murid-murid serempak.
    "Hari ini kalian akan mendapat teman baru.     Razki silakan kamu maju ke depan untuk memperkenalkan diri". Pinta ibu guru.
    "Baik, Bu".
    "Teman-teman perkenalkan nama saya Razki Afarhan. Saya biasa dipanggil Razki. Saya pindahan dari Bandung. Karena ayah saya ada dinas di Klaten saya ikut pindah. Dan akhinya saya memilih untuk sekolah di sini."Jelasnya.

    Ketika pelajaran, sebentar-sebentar aku menoleh ke arah Razki.Dan saat Razki menyadarinya, segera aku mengalihkan pandanganku ke arah ibu guru. Seolah aku memperhatikan betul akan apa yang beliau jelaskan, meskipun sebenarnya aku tidak mendengarkan.
    Beberapa hari kemudian sikapnya terhadapku tak jauh berbeda. Sampai akhirnya Naima menemukan pesan dari Razki dalam ponselku.
    "Ra, hp kamu bunyi, tuh".
    "Ntar dulu tangguh, nich." Aku tak terlalu mempedikannya, karena aku masih sibuk mengerjakan PR yang hampir selesai.
    "Sudah. . . Ini dilanjut nanti saja, lihat pesan ini dari siapa?Coba tebak!" Godanya.
    "Penting, ya?"
    "Oh, sangat."
    "Dari siapa, sich?" Tanyaku penasaran.
    "Dari R-a-z-k-i."
    "Razki! Untuk apa dia mengirim pesan untukku." Aku bingung.
    "Ya, mana aku tahu, baca saja sendiri".

    Segera aku membacanya, di dalamnya tertulis {Assalamu'alaikum. . .?}.
    Segera kubalas {Wa'alaikum salam, da apa?}
    {Kaifa khaluk(bagaimana kabarmu)? }Isi pesannya malah balik bertanya kepadaku.
    {Ana bi khoiri, walhamdulillah(aku baik-baik saja, segala puji bagi Allah)}
    {Sukron (terima kasih), Wassalamu'alaikum}Ia mengakhiri pesannya.
    {Na'am (iya), Wa'alaikum salam. } Kemudin aku menutupnya.

    Karena bingung mengetahui tingkah laku Razki yang berubah menjadi sangat baik padaku, aku meminta penapat Naima. Untuk mengatasi berjuta letakutanku. Aku takut kalau-kalau rasa sayang itu bersemi kembali dan suat hal tejadi.  Aku takut ayah dan bunda tidak mengizinkanku untuk menyandang status pacar anak orang. Aku paling takut Allah SWT tidak meridhoi jejak langkahku.
    "Nai, akhir-akhir ini kamu merasa ada yang aneh dari sikap Razki?" Tanyaku sungguh-sungguh.
    "Ya, aku merasa Razki menyukaimu lagi."
    "Lagi?" Aku serius, Nai."
    "Aku tujuhrius. Ya memang sejak MI kan kalian saling sua, hanya saja belum ada kesempatan untuk bersatu."
    "Itu kan sudah lama sekali, Nai."
    "Tapi, kamu masih ingat kan?"
    "Dikit, banyak yang enggaknya, he. .he." Candaku.

    Minggu-minggu ini Razki banyak mencuri perhatianku, pura-pura baca buku di perpustakaan, rajin mengerjakan PR. Tapi itu semua aneh dan sesuatu yang ajaib bagiku. Entah apa itu, aku tak ingin merusak semangatnya.
    Keanehan itu terjawab, ketika Razki menyatakan perasaanya melalui pesan singkat. Ketakutankupun memberontak, apa yang harus kulakukan. . . Aku pun berusaha untuk mempercayainya, tetapi ia malah berbalik meyakinkanku.
    "Kenapa harus aku? Masih banyak yang lebih dariku." Aku berusaha menghindar dari pertanyaannya.
    "Karena hanya kau yang mampu membuatku selalu nyaman bersamamu." jawabannya semakin memojokkanku.
    "Sungguh?"
    "Dengan kesungguhanku, aku ingin  mencoba menjadi yang terbaik untukmu, izinkan aku?"
    "Aku perlu waktu."
    "Ku tunggu secepatnya."

    Tak berapa lama kemudian, kuceritakan semuanya pada Naima, terapi Naima justru mendukung hubunganku dengannya.Di sisi lain aku tak berani menceritakannya pada bundaku. Akhirnya beberapa hari kemudian aku menerima cinta kunang-kunangnya itu. Ku tangguhkan rasa takutku demi rasa sayangnya. Aku tak ingin merusaksemangatnya akhir-akhir ini.
    Dua hari kemudian ia mengajakku kencan. Dan hari itu adalah Sabtu malam. Ayah dan bunda tentu berbulat tekad tak mengizinkank pergi. Naima pun demikian, meskipun dia mendukung hubunganku dengan Razki, ia tak mengizinkanku berbuat macam-macam. Lantas ia menyarankanku untuk kencan ke arah yang positif.
    "Ra, kalau kamu ada waktu, jalan yuk?' Ajaknya.
    "Maaf, kalau sekarang aku tidak bisa, bagaimana kalau besok pagi?"
    "Ya sudahlah."
    "Waktu dan tempatnya aku yang menentukan."

    Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan pengingat. Yang isinya mengajaknya untuk badminton bersama besok pagi pukul 06.00 setelah aku menyapu halaman. Pesan itu akan ku kirim sekarang. Dan berbunyi  sebagai alarm pukul 04.15 besok.
    Aku sangat menikmati olahraga itu. Meskipun aku dikalahkannya dalam dua babak. Wajar saja ia sangat mahir dalam bidang olahraga. Sebelumnya aku tak punya cukup minat dalam berolahraga. Tetapi berkat ia aku mempunyai motivasi terus untuk berolaraga. Ide kencan Naima memang menyenangkan dan bermanfaat.

    Begitu juga sebaliknya, saat ia kesusahan mengerjakan PR Matematika aku membantu menyelesaikannya. Dengan demikian kami aling melengkapi kekuragan masing-masing.
    Di samping kesenanganku, ketakutankupun memuncak, saat aku ditanya bunda.
    "Kamu dari mana?"
    "Habis badminton,Bu."
    "Tumben kamu mau olahraga?"
    "Emh, besok penilaian ada tentang bulu tangkis, Bu."
    "Oh, begitu."

    Setelah bersih-bersih dan mencuci pakaian aku pun membersihkan badanku dengan cara mandi. Lalu kudengarkan  radio, tema dan waktu yang tepat kutemukan dalam siaran radio RPM Family.
    Dalam siaran itu, kudapati keharaman berpacaran tanpa ikatan pernikahan. Ditambah ceramah dari bapak ibu guru di sekolah dan pengajian ahad pagi kudapati hal serupa. Al-Qur'an benar, pacaran itu mendekati zina. Mendekati zina saja dilarang.
    Ya Allah  ampunilah dosa-dosaku, tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau ridhoi bukan jalan orang-orang yang engku murkai.
    Dan akirnya aku memutuskan untuk bersahabat dengan Razki. Ku jelaskan padanya bahwa bersahabat itu leih baik daripada pacaran.Perlahan Razki pun bisa menerima. . .

Andaikan Kau TaHu



Aku ingin terlelap di atas hujan
Yang membasahi tubuhku
Yang membuang habis amarahku

            Aku ingin bermimpi
            Terbang di atas awan
            Menyusuri senja di atas cahaya

Aku ingin titipkan salamku untukmu
Pada matahari
Yang membuatnya bersinar pagi ini

            Kukirimkan do’a terindah pada bulan dan bintang
            Yang mengganti gelap malam ini
            Dengan sinarnya yang bercahaya

Kutitipkan surat cintaku untukmu
Pada kupu-kupu
Yang membawanya terbang ke dalam pelukanmu

            Kubisikkan rinduku pada angin kelabu
            Yang membelai lembut rambutmu

Andaikan kau tahu
Aku tidak akan bisa tidak lagi memcintaimu
Karena aku belum bisa melupakanmu
Aku masih menyayangimu seperti dulu

            Kau yang mengelilingi hatiku
            Bagaikan putaran jarum jam
            Yang terus berlalu
            Ku tak mampu menghapus kenanganmu
Yang terasa jelas di mata hatiku
Kupahat rasa cintaku di atas batu
Agar tak terhapus panas mentari
Dan tak lapuk oleh hujan yang sunyi

Kutulis rasa benciku
            Di atas pasir dengan kayu
            Agar kelak kudapat menghapusnya
            Bila telah hilang rasanya

Seindah pelangi di langit biru
Kau warnai hari-hariku
Suka duka kurasa bersamamu
Selalu. . .

 by : Miss Puitis

Sahabat Terbelit Cinta


Sehari serasa seminggu
Sebulan serasa setahun
Hari demi hari
Kulalui tanpamu di sisi
            Berat langkah ini
            Lama sekali
            Jauh kakiku berjalan
            Tak jua sampai tujuan
            Melangkah dalam kesendirian
Kerinduan yang telah lama terpendam
Entah kapan alan tergali
Rindu akan hadirnya dirimu
Melewati setiap detak jantung bersamamu
            Aku hampa tanpamu
            Sepi hariku tak ada kamu
Semuanya tawar lagi hambar
Laksana sayur tanpa garam
The tanpa gula
Dunia tanpa cinta
            Mendung pagi hari
            Semendung hati ini
            Hujan membasahi bumi
            Bak air mata menetes di pipi
Saat kau tak di sini
Aku kehilangan mentari
Tak ada lagi
Yang menerangi gelapku di sini
            Aku yakin dan percaya
            Akan kekuatan cinta
            Bila jodoh tak akak kemana

Aku tak pernah meragu
Akan saat dimana aku dan kamu
Kita akan bertemu lagi
Di suatu hari nanti
            Kurasa hatimu masih ada di sini
            Karena aku tahu
            Kamu tak kan pergi jauh dariku
Walau raga kita terlampau jauh
Tapi hati kita tak pernah menjauh
            Dimanapun kamu berada
            Aku harap kau merasa hal yang senada
Meski kita tak sedarah
Biar kita tak serumah
Tapi kita satu hati
Kita satu kalbu
            Selalu, dari dahulu
            Saat ini, dan untuk selamanya
            Terukir rasa
            Selangkah, sehati
            Sehidup dan semati
Kau tak kan pernah kuganti
Meski banyak yang merayu
Yakinlah ku selalu ada untukmu
Saat suka dan duka
Saat keadaanmu yang seperti apa
            Akulah bidadarimu . . .
            Yang turun dari langit ke tujuh
            Diutus untuk menjagamu
Percayalah, aku malaikatmu
Yang selalu menghiburmu
Di saat hatimu membeku
           
Akulah sahabat yang tulus menyayangimu
            Dan kaulah sahabat sajatiku
            Sahabat yang memiliki perasaanku
            Perasaanmu padaku
            Sama seperti perasaanku padamu
Sahabat tenggelam dalam cinta
Larut dalam suasana
Suka karena terbiasa

                                                                                    26 Maret 2012

buah karya :Miss Poemey 

salam motiva
by : Miss Puitis